Jangan Kecewakan Ibu-Ibu!

“Pokoknya jangan, jangan sekali-kali mengecewakan konsumen kalian, terutama bila konsumen itu ibu-ibu,” kata dosen microeconomics gw.

“They are very cruel! They can instantly ruined your business,” lanjutnya.
Meskipun diucapkan dengan nada becanda, tapi kata-kata dosen gw itu ada benarnya juga. Contoh paling mudah untuk menggambarkan kekejaman ibu-ibu adalah “kehancuran” bisnis Aa Gym (well, gak terlalu ancur sih, tapi setidaknya menurun drastis). Setelah mengambil keputusan untuk berpoligami–yang tidak populer di mata ibu-ibu–nama Aa Gym secara mendadak nyaris hilang dari peredaran. Omzet dari beberapa bisnisnya juga berkurang drastis. 
Dosen saya bercerita, dulu dia butuh waktu 3 bulan untuk mem-book di penginapan milik Aa Gym, namun setelah Aa berpoligami, ia tak lagi perlu mengantri selama itu. Bahkan katanya, ketika dosen gw berniat membatalkan rencananya menginap di penginapan Aa, CS penginapan itu setengah memohon membujuk dosen gw agar tetap menginap di sana.
Gw sih belum pernah membaca teks yang terkait dengan perilaku ibu-ibu ini (dan belum juga mengambil matakuliah Perilaku Konsumen), tapi menurut gw hal ini terjadi karena sebagian besar ibu-ibu lebih ekspresif dalam mengungkapkan perasaannya, dibandingkan dengan segmen konsumen lainnya. Jadi kalau mereka kesel, ya mereka ceplas-ceplos aja gitu ngungkapin kekesalannya.
Contohnya adalah ibu gw sendiri. Tadi pas buka puasa, gw dan ibu gw berbuka di sebuah warung nasi di daerah Pemda, Cibinong. Di situ, gw dan ibu gw dongkol banget. Pasalnya, si penjual melayani konsumen (bapak2 garang) yang datang setelah kami. Kami jelas marah, kan kami yg datang pertama, kenapa dia yg dilayani duluan?
Yah gw sih memilih untuk diam, selain karena gak mau cari ribut ama si bapak2 garang, gw pikir ini bagus untuk melatih kesabaran gw (cih…bilang aja takut…hahaha), tapi nggak dengan ibu gw, dia dongkol banget. Dia ngegebrak meja, dan marah teriak “Mas, kan kita yang datang duluan, kenapa bapak itu yg dilayani! Kita udah lapar nih, dan maghribnya keburu abis!” Akhirnya setelah selesai makan, dia ngasih duit dengan kasar dan langsung ngajak gw cabut.
Nah, kalo udah kesel kayak gitu biasanya ibu-ibu bakal cerita ke ibu-ibu lainnya. hmm….jadi inget pepatah, cerita baik akan disharing ke 3 orang, cerita buruk akan disharing ke 3.000 orang. Wah kalo cerita buruk dah tersebar di antara ibu-ibu gitu sih udah susah deh, berabe, apalagi kalau mereka itu adalah konsumen utama kita. Kayaknya mening bikin bisnis baru deh.
Solusi satu-satunya untuk menghadapi ibu-ibu ini menurut gw adalah menyelesaikan permasalahan saat itu juga. Jadi ketika si ibu-ibu mulai cerewet dan komplain, kita tanya segara apa yang membuat dia kurang puas, kemudian puaskan keinginannya, atau minta maaf dan berikan kompensasi atas ketidaknyaman itu (diskon misalnya). Kalau dilayani dengan ramah tentu hati siapa pun akan lunak. Bahkan bisa jadi dia malah menjadi konsumen loyal kita.
Explore posts in the same categories: pemasaran, pendapat, pengalaman

6 Komentar pada “Jangan Kecewakan Ibu-Ibu!”

  1. wi3nd Says:

    hehe..bener ju9a seeh..[calon ibukan gw yakh hehhe]
    makanya jangan pernah ngecewain dech bisa pesan berantai tuch hwahahaha..

  2. wi3nd Says:

    *oot*

    ot ada tahs tolong diisi yakh..tengkyuu..;)


  3. Hee, jadi ibu-ibu itu pedang bermata dua ya.😛 Jadi ingat di sebuah game, kalau sang karakter berbuat baik maupun berbuat buruk, biasanya ibu-ibu yang ngerespon duluan.

  4. masamune11 Says:

    Nah, kalo udah kesel kayak gitu biasanya ibu-ibu bakal cerita ke ibu-ibu lainnya. hmm….jadi inget pepatah, cerita baik akan disharing ke 3 orang, cerita buruk akan disharing ke 3.000 orang. Wah kalo cerita buruk dah tersebar di antara ibu-ibu gitu sih udah susah deh, berabe, apalagi kalau mereka itu adalah konsumen utama kita. Kayaknya mening bikin bisnis baru deh.

    Um, ah…. eh…

    Kalau begini, sepertinya tidak berlaku pada ibu-ibu saja kan? Misalkan, satu geng cewek yang tidak puas dengan sebuah produk dan menyebarkan hal tersebut… *siul-siul*

    *kabur*

  5. Raditya Triputra Says:

    Melihat rangkaian komentar di atas, intinya mungkin jangan kecewakan ‘Kaum Wanita’ karena ruginya bisa berkali-kali lipat.

    Tapi dimana kita bisa membahagiakan mereka, untungnya bisa jutaan kali lipat. Hebat sekali ya para wanita, bahkan bisa lebih cepat dari jalur bisnis MLM *ikut siul-siul*

    *yang sudah punya banyak pengalman dengan wanita dan ibu-ibu*


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: